Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Puisi - Panggilan yang Lima

Sabtu, 01 Oktober 2016

Berdirilah dan tinggalkan yang Dia haramkan
Bacakan tanda-Nya dan kenali jalan-Nya
Tundukkan pandang dan dengarkan tenang
Lalu pulang dan renungkan

Bahwa Dia di atas segala
Bahwa Dia penentu segala
Bahwa Dia pemilik kuasa
Bahwa Dia pemilik kehendak

Lalu duduk dan mohonlah maaf
Karena lancang laku badanmu
Karena lancang rasa hatimu
Karena lancang akal pikirmu

Lalu kembalilah karena Dia Maha Pemaaf
Tinggalkan dirimu dan sucikan Dia
Yang telah memberimu air hidup
Dan mengajarimu ilmu yang sejati

Lalu jadikan dirimu tidak ada
Hingga kau tak dapat disebut apa-apa
Kecuali bagian dari keselamatan
Bagi kawan maupun lawan 

Puisi - Suluk Yin Yang

Minggu, 19 Oktober 2014

Jauh khayalku menerawang
Kenapa Nabi ada yang menentang
Kenapa kejahatan terkadang menang
Kenapa bahaya selalu merintang

Tapi kantukku datang menyerang
Lalu tertidur aku terlentang
Lalu tampak olehku seseorang
Lalu padanya aku datang

Dia yang menjadikan pohon tumbuh dan kembang
Dia pula yang menjadikannya rapuh dan tumbang
Akan kujelaskan dengan gamblang
Sampai kau merasa kenyang

Ada sedih maka ada senang
Ada lebih maka ada kurang
Ada malam maka ada siang
Ada gelap maka ada terang

Ada yang bilang itu yin dan yang
Ada yang bilang dua cabang dari satu batang
Kalau kubilang itu harmoni yang seimbang
Yang telah ditulis Yang Maha Penyayang

Karena ada cahaya maka ada bayang
Karena ada keduanya maka dapat kita memandang
Apa yang dilukis di atas bidang
Oleh yang menghadap dan yang membelakang

Demikianlah Dia hamparkan bumi terbentang
Dan penuhkan langit dengan bintang-bintang
Agar Dia melihat siapa-siapa yang hilang
Dan melihat pula siapa-siapa yang pulang

Maha Suci Allah Yang Maha Benderang
Yang selalu dipuja pagi dan petang
Yang menjadikan kita berpasang-pasang
Yang bersamanya hati menjadi tenang

Puisi - Yang Paling Besar

Selasa, 23 September 2014

Siapakah yang paling pintar?
Yang bisa menjawab dengan benar
Bilangan apakah yang paling besar?

          Demikian sang guru bertanya
          Saat menguji ketiga muridnya
          Tentang ilmu yang mereka punya

Maka berdiri murid pertama
Ia berpikir agak lama
Kemudian menjawab ia lima

          Tapi jumlah jari bukan jawaban
          Melainkan sekadar batasan
          Atas kemampuan dan akal pikiran

Maka berdiri murid kedua
Sebagai murid paling tua
Dengan sombong ia tertawa

          Seolah yang paling benar
          Dia kata satu milyar
          Sebagai angka paling besar

Lalu protes gurunya itu
Tidakkah kau belajar sesuatu
Apa tidak ada satu milyar satu?

          Maka berdiri murid ketiga
          Mulutnya terbuka menganga
          Tapi jawabnya tak keluar juga

Melihat gurunya dengan heran
Menunggu lainnya tak sabaran
Maka ia mulai menjelaskan

          Aku ingin sebut suatu bilangan
          Tapi kusebut tujuh ada delapan
          Kusebut delapan masih ada sembilan

Dan akhirnya aku pun menyerah
Apapun kukata pastilah salah
Kalau dihukum pun tak apalah

          Demikianlah mereka yang benar tahu
          Tak akan pernah mengaku tahu
          Adapun yang mereka yang mengaku tahu
          Mereka itulah yang paling tidak tahu

Karena bilangan terbesar
Tentulah tak dapat dijabar
Jika memang dapat dijabar
Tentulah bukan yang terbesar

          Adapun Tak Berhingga hanyalah nama
          Tapi tidaklah nama dan Dia itu sama
          Dan manusia bebas memberi nama
          Tapi Dia lebih tahu mana yang lebih utama

Puisi - Ada untuk Disyukuri

Jumat, 22 Agustus 2014

Wahai saudara saudari
Tahukah kau bunga berduri
Yang jika dipandang indah berseri
Jika dipegang buat sakit dan nyeri

Seperti itulah harta yang kau cari
Jika kau mau menyadari
Padahal kaya itu, tak perlu dicari
Bila tiba waktu, nanti datang sendiri

Pernahkah kau lihat matahari
Yang setia terbit di pagi hari
Akankah ia tetap menyinari
Jika kau cari di malam hari

Seperti gunung yang tegak berdiri
Kekayaanmu tak akan lari
Seperti terkunci dalam lemari
Kekayaanmu tak akan dicuri

Karena yang sejati ada dalam diri
Bukan dalam peti atau di ujung negeri
Cukup tanya hati sanubari
Apa kau pantas untuk diberi

Karena orang kaya punya ciri-ciri
Tangannya suka memberi
Wajahnya selalu berseri
Hatinya tak pernah iri

Setiap sajak punya intisari
Jika kau mau mencari
Sampai disini saya akhiri
Nasehat untuk saya sendiri


Bebas disebarkan dan dibagi :)

Puisi - Syair Kekasih yang Melupakan

Selasa, 24 Juni 2014

Wahai Rahman...
Gundah hati ini merasakan
Sakit kepala ini memikirkan
Betapa besar dosa dilakukan
Oleh kekasih yang melupakan

          Siapa yang sibuk bekerja
          Siapa pula yang dibuatnya raja
          Siapa yang memberinya apa saja
          Siapa pula yang ia manja

Wahai Yang Merajai segalanya
Kau buatku bertanya-tanya
Saat Kau mengampuninya
Padahal aku ingin sekali menghukumnya
Kalau saja aku bukan dirinya

          Sungguh aku heran,
          Mengapa Kau terus memberiku?
          Mengapa Kau terus membiarkanku?
          Mengapa tak Kau tampar saja aku?
          Biar aku sadar akan dosa-dosaku

Yang selalu saja mengharap cinta
Dari mereka yang Kau cipta

Yang terus saja menaruh rindu
Pada mereka yang buatMu cemburu

Yang tak pernah berusaha ingat
Untuk bermesraan denganMu di malam Jumat

Dan tak pernah menjadi sadar
Pada siapa selama ini aku bersandar

          Ya Rahman Ya Rahim, ampunilah aku
          Ampunilah segala dosaku
          Kalaulah ada satu laku
          Yang bisa menebus semua dosaku
          Sudilah Kau mengajarkan satu padaku

Puisi - Untuk Manusia Busuk

Minggu, 24 November 2013

Saat api berkobar hebat
Saat bumi berguncang dahsyat
Saat ombak menyapu cepat
Saat angin bertiup kuat

Saat alam kembali mengamuk
Langit bumi pun mengutuk
Bukan karena setan terkutuk
Tapi ulah manusia-manusia busuk

Yang tak lagi percaya pada Tuhan
Yang lebih percaya pada ilmu pengetahuan
Seolah dia pemilik kebenaran
Seolah kuasaNya tak punya peran

Sungguh Dia sayang pada sekalian
Dengan mengirim aku dan teman-teman
Membawa sebuah janji dan sebuah ancaman
Supaya jadi berita dan peringatan

Betaubatlah hai manusia
Janganlah kamu sombong dan riya
Jangan pernah mencari penggantiNya
Supaya amalmu tak sia-sia


Ksatria
Medan, 24 November 2013

Puisi - Penantian Seorang Ksatria

Sabtu, 23 November 2013

Aku berada dalam penantian
Sebuah penantian di tepi jaman
Saat manusia mulai lupa daratan
Padanya datang setan-setan

Aku berharap andai saja
Aku cukup baik dan bersahaja
Cukup paham dan rajin bekerja
Aku ingin melayani sang raja

Raja baik yang nanti akan datang
Yang menghapus semua manusia jalang
Yang menghijaukan yang kering kerontang
Yang welas asih dan juga penyayang

Andai aku bisa bediri di sampingnya
Di samping keluhuran budi dan akhlaknya
Membantunya membersihkan dunia
Mengembalikan manusia ke derajat yang mulia

Aku disini dan terus berdiri
Masih disini dan terus menanti
Ratu adil, Messiah, Herucakra atau siapapun dia
Tapi aku menyebutnya Imam Mahdi

Ksatria
Medan, 23 November 2013