Menghadapi Zaman yang Terus Berubah

Jumat, 29 Januari 2016

specialization evolusi zaman dan peradaban

Dalam perjalananku ke sekolah tadi, sebuah penatu (laundry) baru dibuka. Fasad depan penatu itu cukup bagus sehingga aku memperhatikan dan melihat ke dalam lewat pintu kacanya cukup lama. Penatu yang satu itu membuatku berpikir bisnis jasa cuci-mencuci ini memang masih jadi tren.


Aku berpikir, mungkin jika bisnis penatu ini semakin banyak dan pasarnya pun bertambah, besok tidak akan ada lagi kita temui sabun cuci dijual bebas di warung dan swalayan. Mungkin saja, di masa depan nanti, ketika mencuci ke penatu sudah menjadi kebiasaan dan kebutuhan setiap keluarga modern, tidak akan ada lagi anak remaja yang belajar dan pandai mencuci dan menggosok pakaian. Mungkin saja kan? 


BUKAN HAL BARU
Jika memang akan terjadi, hal ini sebenarnya bukan lagi hal baru. Kalau kalian hidup cukup lama untuk mengingatnya, sebenarnya dulu setiap orang tua pandai mengajarkan anaknya mengaji. Namun seiring bertambahnya kesibukan orang tua modern, mengajar mengaji terlihat seperti pekerjaan yang terlalu remeh. Mereka berpikir waktu mereka akan lebih efektif jika digunakan untuk bekerja dan menghasilkan uang. Nah, uang inilah yang mereka gunakan untuk mengupahi seorang guru ngaji untuk menggantikan mereka mengajari anaknya.

Mereka hanya menitipkan tugas kepada orang yang mereka rasa lebih ahli dalam bidangnya. Tidak ada yang salah dengan semua itu.

Di zaman dulu orang-orang juga terbiasa untuk memasak sendiri makanannya. Hal itu terus berlangsung sampai seorang istri terlalu sibuk mengerjakan sesuatu yang lain dan membuat mereka berpikir memasak adalah pekerjaan yang merepotkan. Saat itu muncullah bisnis katering sebagai solusi atas permasalahan mereka.

Sekali lagi, apa yang para istri itu kerjakan hanyalah menyerahkan urusan memasak kepada mereka yang lebih ahli. Tidak ada yang salah dengan semua itu.


TAPI ADA DAMPAK BURUKNYA
Kalau semua ini terus dibiarkan terjadi, di masa depan kita akan menemukan generasi manusia menjadi lebih lemah dan lebih tidak cakap dalam hal apapun. Mereka tidak bisa memasak, tidak bisa mencuci, tidak bisa memasang lampunya sendiri dan berbagai macam ketidakmampuan lainnya yang mungkin tidak pernah terpikirkan.

Kalau kalian protes pada mereka atas ketidakmampuan mereka itu, mereka akan bilang, “Kan sudah ada katering, sudah ada penatu, sudah ada bengkel dan para ahli lainnya. Jadi buat apa aku capek-capek mempelajari dan mengerjakan semua itu sendirian jika aku punya cukup banyak uang untuk membayar mereka semua?”


EVOLUSI PERADABAN
Tapi bagaimana pun semua perubahan di atas adalah suatu niscayaan yang tak perlu disesali. Seiring perkembangan zaman, peradaban memang akan terus berevolusi menuju kekhususan dan spesialisasi. Peradaban manusia masih dan akan terus berada dalam tahap evolusi.

Dulu, kita para manusia, hidup nomaden dan berpindah-pindah. Pada masa itu setiap orang dituntut bisa berburu dan membuat pakaiannya sendiri. Berikutnya peradaban kita berevolusi, beberapa manusia berdiferensiasi menjadi petani yang bercocok tanam sedangkan yang lainnya memasak. Pada masa itu tidak setiap orang pandai memasak.

Berikutnya peradaban kita berevolusi lagi, munculnya orang-orang yang pandai menjahit seperti Nabi Idris membuat orang memberikan mandat menjahit kepada yang ahlinya. Saat itu perlahan manusia tidak membuat pakaiannya sendiri lagi.

Dan sampailah evolusi peradaban itu ke zaman sekarang, dimana manusia telah terspesialisasi menjadi profesi-profesi tertentu, dimana tak ada lagi manusia yang dapat hidup sendiri tanpa bantuan yang lainnya. Sampailah kita di zaman dimana manusia telah terorganisasi dengan baik dalam tugas-tugas dasar seperti menanam makanan, berburu ikan, mendistribusikan makanan, meramu bumbu, hingga memasak dan tugas-tugas tambahan seperti membuat pakaian, alat komunikasi, dan menjalankan transportasi baik yang kecil maupun yang besar.

Dan sadarilah, bahwa evolusi itu belum berhenti!

Peradaban manusia belumlah sekompleks peradaban semut dan lebah yang telah bisa menentukan sejak lahir, semut mana yang akan jadi pekerja dan semut mana yang akan jadi prajurit. Peradaban manusia juga belum sekompleks sebuah sel tunggal, yang sudah jelas organel mana yang tugasnya menghasilkan energi, organel mana yang tugasnya berpikir, dan organel mana yang bertanggung jawab atas gerak dan komunikasi ke dalam dan luar sel. Peradaban kita masih harus banyak belajar dan banyak berevolusi.

Kita tidak dituntut untuk menghentikannya karena ia tidak bisa dihentikan. Kita hanya dituntut untuk siap saat evolusi itu sampai ke titik terjauhnya. Ini adalah suatu keharusan dan merupakan bagian dari proses penyempurnaan peradaban manusia.

Roda zaman akan terus berputar. Aku hanya berpesan agar kita berhati-hati agar tidak sampai terlindas olehnya dan tertinggal di belakang. Darwin pernah berkata, makhluk yang paling bertahan bukanlah yang terkuat tapi yang paling siap dengan datangnya perubahan.
Bagikan via:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Google+ Followers