Haruskah Aku Korbankan Idealisme Demi Pekerjaan

Minggu, 24 Januari 2016

idealisme pemuda dan profesi yang menyelamatkan dunia

Sekarang ini pikiranku sedang disibukkan dengan pertanyaan: “Kira-kira pekerjaan apa yang pas untuk orang sepertiku?”

Sebagian dari kita mungkin bertanya, mengapa sekarang tulisanku tidak terbit sesering sebelumnya? Jawabannya sederhana. Sejak memutuskan untuk berhenti nonton televisi tiga bulan lalu, aku hidup lebih tenang dan lebih damai. Tidak seperti kalian yang masih nonton televisi, sekarang aku punya lebih sedikit hal untuk dikesalkan. Mungkin karena itulah inspirasi menulis tidak datang padaku sesering sebelumnya.


PERTANYAAN SEORANG SARJANA MUDA
“Dimana aku harus melamar jika aku mencari yang pekerjaannya santai tapi gajinya banyak?”

Percaya atau tidak, itulah pertanyaan yang sering kali muncul dalam benak seorang yang baru diizinkan menggunakan gelar sarjana seperti aku dan teman-temanku. Pertanyaan itu pula yang malam ini membuatku berpikir, apakah pertanyaan seperti itu yang seharusnya seorang pemuda tanyakan setelah menjadi sarjana?

Sebagai seorang idealis, aku yakin jawabannya adalah tidak. Hidup tidak sesempit pikiran orang yang hanya peduli pada dirinya sendiri. Kerasnya persaingan hidup di akhir zaman tidak seharusnya membuat kita berpikir bahwa harta adalah segalanya. Oleh karena itu, aku rasa lebih baik jika pertanyaannya diganti, “Bagaimana aku akan mengabdikan hidupku untuk agama, bangsa dan keluarga setelah ini?”


PROFESI YANG COCOK
Sebuah pekerjaan tidaklah hanya harus baik dari segi penghasilan tapi juga harus memberi kebaikan bagi sesama. Pekerjaan yang ideal menurutku adalah pekerjaan yang tidak hanya menjadi ladang penghidupan tapi juga menjadi ladang pahala di akhirat kelak. Untuk itu, ia tak hanya harus memberi manfaat bagi orang banyak tapi juga harus tidak memberi mudharat atau kerugian apapun pada orang yang tidak bersalah. Itu sebabnya bekerja sebagai agen suatu multi level marketing tidak pernah menjadi pilihan bagiku.

Aku juga bertekad untuk tidak melamar ke perusahaan rokok walau bagaimanapun besarnya tawaran yang mereka berikan. Bagaimana aku sanggup berkampanye anti-rokok jika hidupku dibiayai oleh keuntungan yang mereka hasilkan? Aku bersyukur masih bisa bebas mengatakan kebenaran bahwa rokok itu tidak baik karena tidak pernah berhutang apapun pada mereka.

Ibuku sendiri berharap aku tidak tergiur dengan besarnya gaji yang ditawarkan bank atau perusahaan asuransi manapun. Beliau takut gaji yang kuperoleh dari perusahaan yang penuh dengan riba nantinya tidak berkah. Aku yang takut menjadi anak durhaka karena makan rejeki yang tidak berkah langsung setuju dengan pendapat ibuku itu.

Beberapa dari temanku bertekad untuk sebisa mungkin tidak melamar ke perusahaan penghasil kertas sebagai wujud kepedulian mereka terhadap lingkungan. Beberapa dari temanku yang lain bertekad untuk tidak masuk ke perusahaan periklanan. Salah seorang dari mereka takut sekali perusahaan minuman keras datang dan memaksanya membuat iklan yang mencitrakan seolah minuman itu baik untuk dikonsumsi.

Aku sadar mendapat pekerjaan sebaik itu tidak mudah. Aku juga sadar bersikap keras pada diri sendiri akan jauh lebih susah. Aku hanya ingin mengajak kita bertanya pada diri kita masing-masing, “Dimana sebenarnya batas kesanggupan kita untuk menaati perintahnya?”

Nabi sudah mengingatkan kalau di akhir zaman berpegang teguh pada kebenaran akan seperti memegang bara. Pertanyaannya adalah apakah kita termasuk orang yang cukup sabar untuk memegang bara di akhir zaman ini untuk menghindari bara yang lebih panas di akhirat kelak.


Karena hanya mereka yang sabar yang berhak atas pahala tanpa batas.
Bagikan via:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Google+ Followers