Cerpen - Michael's Book of Gift

Senin, 25 Januari 2016

ada buku jatuh dari langit

Aku heran kenapa lama sekali doaku dikabulkan.

Namaku Arif dan aku seorang anak SMA yang banyak keinginan. Aku ingin naik jet coaster. Aku ingin menjadi yang paling favorit di kelas. Aku ingin punya tabletku sendiri. Aku ingin punya laboratoriumku sendiri. Dan aku ingin membuat Yara (seorang gadis yang kutaksir) terkesan.


Cukup banyak kan? Itu belum semuanya kawan tapi ketahuilah bahwa itu keinginanku dua tahun yang lalu. Aku sudah kelas tiga sekarang. Dan aku sadar bahwa keinginan itu tak ubahnya seperti mimpi yang tak akan terwujud. Kalau pun terwujud pasti akan makan waktu yang lama sekali. Jadi aku bersikap realistis. Aku agak mengurangi keinginanku.

Sekarang ini aku hanya ingin lulus Ujian Nasional. Aku takut sekali tidak lulus di mata pelajaran Biologi dan Bahasa Indonesia. Aku dengar isu bahwa UN akan dihapuskan tahun lalu tapi kenapa belum dihapus juga ya. Ini sudah bulan Januari!!!

Jadi tiap malam aku berdoa,

“Ya Allah, hapuskanlah UN tahun ini.”

“Kalau pun Engkau tak mau karena suatu alasan yang cukup urgen, mundurkanlah waktunya.”

“kalau pun Engkau tak mau memundurkannya, kirimkanlah utusanmu untuk memberikan aku kuncinya.”

“Kalau pun Engkau tak tega membuatku melakukan dosa seperti itu, buatlah aku pintar Biologi dan Bahasa Indonesia yang jawabannya tidak pernah jelas itu.”

“Amiinn..”

Begitulah doaku selalu setelah shalat dan sebelum tidur.

Tapi aku pesimis doaku yang satu ini akan terkabul dalam waktu dekat. Aku sudah pengalaman dalam hal doa-berdoa ini. Aku sudah cukup sering berdoa tapi jarang sekali diantara semua doa itu yang langsung terkabul. Dulu aku pernah berdoa agar ayahku dapat segera mengganti mobilnya menjadi sebuah Grandis berwarna abu-abu. Doaku itu baru terkabul tahun lalu, delapan tahun setelah aku berdoa. Tidak mungkin aku menunggu delapan tahun untuk dapat lulus UN kan?

Rasanya aku ingin berteriak saja, “Tak adakah suatu cara yang lebih cepat?” tapi aku sadar hari sudah malam, aku hanya akan dikira orang gila jika berbuat seperti itu. Jadi, aku berdoa di atas tempat tidurku, “Ya Allah, Engkau tahu aku tak bersemangat lagi untuk berdoa tapi Engkau pun tahu aku tak punya pilihan. Hanya Engkaulah tempatku berharap dan hanya Engkaulah tempatku meminta. Jadi malam ini aku berdoa lagi, sama seperti malam-malam sebelumnya, beritahulah aku cara agar aku dapat menguasai Biologi dan Bahasa Indonesia sebagaimana aku menguasai Kimia, Fisika dan Matematika. Amiinn..”


***


“Hei, Arif! Bisa kamu jawab soal nomor lima?” tanya Pak Habib, seorang guru matematika sekaligus guru favoritku.

“Bisa pak.” Jawabku, “Nomor lima itu dikerjakan dengan integral subtitusi jawabannya a tambah b pangkat dua.”

“Yak betul! Kalau begitu sampai disini dulu pelajaran hari ini. Kita tutup dengan mengucapkan lafal hamdalah.”

Secara serempak aku dan seluruh teman sekelasku mengucap hamdalah.

“Kalau ada yang tidak jelas, kalian semua boleh bertanya pada Arif sebelum bertanya sama bapak ya. Assalamualaikum” kata Pak Habib sebelum menghilang keluar dari kelas.

Setelah ini adalah jam pelajaran Biologi. Aku tidak suka biologi jadi kuputuskan untuk melihat keluar jendela sambil mencari Yara di lapangan di halaman sekolah. Ini jam olahraganya.

Walaupun wajahnya tidak terlihat terlalu jelas dari atas sini, aku selalu mengenali yang mana Yara. Ia punya sebuah kebiasaan yang sama setiap jam olahraga. Setiap menit ke tujuh belas atau delapan belas ia akan duduk di dekat pohon mangga di sebelah kanan gawang. Ia akan membaca sebuah novel atau SMS-an atau BBM-an dengan seseorang. Aku harap itu bukan pacarnya.

Nah itu dia Yara. Dia sedang berlari-lari mengelilingi lapangan. Pandanganku sedang lekat-lekatnya saat tiba-tiba sebuah buku muncul di udara dan jatuh tepat di tengah lapangan. “Buku apa itu?” pikirku

Aku langsung permisi pada guru Biologiku dan berjalan menuruni tangga. Berharap tak seorang pun menyadari kehadiran buku itu. Jangan-jangan itu DeathNote?

Apa iya itu DeathNote? Kok rasanya aku ragu ya. Aku memang suka matematika tapi tidak sejenius Light Yagami dan tidak seidealis Pak Habib. Itu pasti bukan DeathNote tapi kalau bukan lalu apa?

Aku memutuskan untuk berlari lebih cepat dan langsung mencaritahu faktanya ke tengah lapangan.


***


Aku takut membuka buku itu sendiri. Ia tebal sekali, mungkin mencapai 4000 sampai 6000 halaman, aku tak tahu. Warnanya yang putih terang dan ukurannya yang tidak biasa membuatku takut salah adab terhadapnya. Jadi aku membawanya ke tempat seorang temanku sepulang sekolah. Ia tidak tahu tentang benda pusaka atau mitos-mitos lama, aku hanya membutuhkannya untuk jadi temanku berteriak bersama jika sesuatu yang mengerikan tiba-tiba keluar dari dalam buku itu.

“Judulnya Kitab Hadiah Mikail.” kataku pada Syaiful yang tinggal di asrama sekolah.

“Wow. Apa benar kitab ini milik Mikail, malaikat pengatur rezeki?” tanya Syaiful.

“Entahlah, mungkin saja. Cepat buka ful. Aku takut.”

“OK lah! Aku penasaran.”

Syaiful pun membuka buku itu di halaman acak. Kemudian sebuah tulisan perlahan muncul dari halamannya yang mula-mula kosong.

SYAIFUL KURNIAWAN – JAM TANGANNYA SENDIRI
  • MENGIKHLASKAN KEHILANGAN JAMNYA (V)
  • MEMBERSIHKAN KAMARNYA (X)

“Lihat Ful! Namamu muncul disitu. Berarti kau akan mati 40 detik lagi! Cepat tulis wasiatmu!”

“Bukan wak! Kau pikir ini DeathNote? Apa maksudnya JAM TANGANNYA SENDIRI ini ya?”

“Coba pikir lagi Ful!”

“Oh iya, aku kehilangan jam dua hari lalu! Aku yakin ia ketinggalan di kelas. Sudah kucari tapi tak ketemu-ketemu. Jadi kuikhlaskan saja. Besok aku rencana beli yang baru.”

“Lihat Ful! Di situ tertulis MENGIKHLASKAN KEHILANGAN JAMNYA terceklis tapi MEMBERSIHKAN KAMARNYA belum! Coba kamu bersihkan kamar dulu! Kita lihat apa yang terjadi.”

Tidak butuh waktu lama bagi Syaiful untuk membersihkan kamarnya. Dan tak butuh waktu lama bagiku untuk langsung tahu,

“Lihat Rif! Jamku ketemu lagi! Ternyata selama ini dia ada dibawah tempat tidurku! Haha!”

“Sebentar Ful. Biarkan aku berpikir. Berarti buku ini memberitahu orang yang membuka bukunya tentang sesuatu yang hilang dan apa saja syarat-syarat yang diperlukan orang tersebut untuk mendapatkan barangnya kembali!”

“Wow, hebat juga temuan kamu Rif!”

“Kita harus membuktikannya sekali lagi dulu. Coba sini aku yang buka.”

Aku pun membuka buku itu dan mendapati sesuatu yang berbeda,

ARIF WIRAWAN – KESAN BAIK YARA SYAFITRI
  • 36 JAM IMPRESI (X)
  • SEBUAH PERTUNJUKKAN DI PANGGUNG (X)
  • NILAI MATEMATIKA 100 DI RAPOT (V)

ARIF WIRAWAN – NAIK JET COASTER
  • MEMILIKI UANG SEBESAR 200.000 (X)
  • MENYELESAIKAN SEMESTER PERTAMA KELAS TIGA (X)
  • MENYARANKAN KETUA KELAS UNTUK PERGI KE SIBOLANGIT (X)

ARIF WIRAWAN – TABLET ANDROID 7”
  • MENGAMBIL JANJI AYAH UNTUK MEMBERI HADIAH ANDROID (X)
  • MENJADI RANGKING SATU DI SELURUH NEGERI (X)
...

“Gila Rif! Banyak kali tulisannya.” seru Syaiful.

“Ini bukan barangku yang hilang Ful. Ini daftar hal yang paling kuinginkan hari ini.”

“Oh berarti bukan daftar barang hilang ya! Iya sih, tapi aku memang lagi pingin jam.”

Aku tak begitu mendengar apa yang Syaiful katakan, otakku langsung tertuju pada satu hal. Lulus UN! Jadi aku membolak-balik kitab itu, berharap ada sebuah halaman yang menunjukkan tulisan itu. Dan tapi ada terlalu banyak halaman yang berisi tulisan disana waktu aku yang menbukanya. Aku jadi menyesal punya terlalu banyak keinginan. Tapi akhirnya aku mendapatkan ini di sebuah halaman

ARIF WIRAWAN – PENGUASAAN BUKU BIOLOGI SMA ERLANGGA
  • MENGIKUTI SETIAP PERTEMUAN BIOLOGI DI SEKOLAH (V)
  • MENYELESAIKAN 4000 SOAL BIOLOGI DARI BANK SOAL (X)
  • BELAJAR MEMAAFKAN PAK TAMBUN (X)

“Kamu gak pernah absen kan?” tanya Syaiful yang juga membaca buku yang kubuka.

“Sampai sekarang belum. Pantas saja yang pertama sudah terceklis. Aku paham syarat kedua, aku tinggal pinjam bank soalmu, tapi syarat ketiga?”

“ BELAJAR MEMAAFKAN PAK TAMBUN.” Syaiful mengeja apa yang tertulis disana. “Aku juga tidak mengerti. Apa kamu tidak suka sama Pak Tambun?”

“Aku memang tidak menyukainya sejak ia permalukan aku di depan kelas. Itu waktu kita masih kelas satu. Waktu itu kita belum sekelas.”

“Kalau begitu maafkanlah. Aku yakin itulah yang menghambat pelajaran Biologi masuk ke otak pintarmu itu. Kalau kau tidak suka gurunya bagaimana bisa kau memahaminya?”

“Kurasa kau benar.”


***


Sejak hari itu, setiap hari aku membantu orang lain menemukan hambatan dalam mencapai apa yang ia kejar. Beberapa diantara mereka tidak melakukan usaha apapun untuk mengejar cita-citanya. Beberapa lagi sudah sangat dekat dengan keberhasilan saat mereka menyerah.

Aku juga pernah menemukan seorang pengusaha yang menginginkan tendernya dimenangkan setelah 10 tahun mengalami kegagalan tanpa putus. Ternyata ia lupa minta maaf pada orang tuanya.

Hari ini sudah tiga tahun berlalu dan tentunya aku sudah naik jet coaster dan mendapatkan tablet yang kuinginkan. Aku juga mendapatkan banyak hadiah lainnya saat aku tahu syaratnya cuma satu, yaitu bersyukur atas apa yang ada.

Dan tepat pada bulan Januari saat ujian semester lima perkualiahanku dimulai. Sesosok makhluk muncul di kamarku. Aku tak akan menceritakan rupanya karena ia tak bisa diceritakan tapi aku harap kalian mengerti kalau itu adalah Mikail. Ia datang dan meminta kembali bukuku.

“Eh, Rif! Dah pulang?”

“Darimana abang tahu namaku?”

“Dari Allah. Kata Atid ente yang nyimpen Kitab Hadiah ane ya?”

“Eh, iya bang. Tiga tahun ini aku yang jaga, supaya gak disalah gunain orang.”

“Yaudah sini balikin.”

“Sebelumnya aku boleh nanya bang?”

“Apa itu?”

“Kenapa bukunya bisa sampai jatuh? Kenapa buku ini Bahasa Indonesia? Dan kenapa aku yang nemuin?”

“Ane juga gak tahu kapan jatuhnya. Buku itu memang dibuat dalam bahasa yang dimengerti pembacanya, kalau ane yang buka ente gak bakal bisa lihat tulisannya. Kalau soal kenapa ente ane juga gak tahu, emang ente dulu pernah supaya dapat buku itu?”

“Jangannya berdoa, tahu pun aku tidak soal buku ini tapi dulu aku pernah doa supaya dikasi tahu cara jago Biologi.”

“Yaudah cukup main-mainnya, kembaliin buku ane.”

“Kalau dibalikin, ane tetap tahu keberadaan buku itu kan?”

“Ya nggak lah. Ente gak pernah nonton DeathNote? Kalau kepemilikan buku dicabut ente dan seluruh manusia yang pernah tahu soal ini gak bakal bisa ingat apa-apa lagi soal buku ane.”

“Tahu sih.” Aku pun menyerahkan buku itu pada Mikail. “Tapi satu permintaan terakhir ya.”

“Apa?”

“Tolong liatin satu halaman terakhir buatku dan bacakan isinya.”

“OK lah. Nih!”

ARIF WIRAWAN – INGATAN TENTANG KITAB HADIAH MIKAIL
  • Menolong 1000 orang dengan kitab itu (V)
  • Berjanji pada Mikail untuk tidak membocorkan rahasia keberadaan buku itu (X)

Aku pun berjanji pada Mikail tidak akan membocorkan rahasianya.

Aku harap kalian tidak berhenti berusaha. Jangan hanya punya banyak keinginan tapi sedikit bersyukur. Cobalah berharap agar Allah memberikan satu hari lagi untuk bernapas dan berbuat baik sebelum tidur. Niscaya engkau akan sadar betapa banyak hal-hal yang patut disyukuri di dunia ini.
Bagikan via:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Google+ Followers