Cerpen - Lelaki yang Mencari Makan

Rabu, 27 Januari 2016

kisah inspiratif islami rezeki rizki sukses kaya

Seorang lelaki terlihat sangat frustasi ketika berjalan pulang dari kantornya. Pasalnya hari itu ia habis dimarahi bosnya karena kinerjanya yang menurun. Lelaki itu pikir sebenarnya ia sudah cukup rajin tapi ketatnya persaingan dalam mengejar karir dan penghidupan membuatnya harus bekerja lebih dan lebih keras lagi agar tak tersingkir. Pada akhirnya ia terjebak dalam sebuah sistem yang mengharuskan ia bekerja tanpa henti jika ia tak ingin makannya terhenti. Sedih kan?
Laki-laki itu sedang mengeluh waktu tiba-tiba hujan deras turun. Karena tidak mau basah, ia itu berteduh di teras sebuah toko elektronik yang memajang banyak TV di jendelanya. Dari salah satu TV dalam jendela itu lelaki tadi menyaksikan seorang motivator akan mulai menceritakan sebuah kisah dari Ibnul Jauzi yang berjudul SEEKOR BURUNG DAN ULAR YANG BUTA. Kisahnya begini:

Ada seorang ahli ibadah yang setiap siang selalu melihat seekor burung membawa sepotong daging dan hinggap di atas pohon kurma di dekat rumahnya. Kelakuan burung itu membuat si ahli ibadah heran. “Mana ada burung yang bersarang di atas pohon kurma,” pikirnya.

Burung itu datang dan datang lagi setiap harinya dan setiap kalinya bertambahlah rasa penasaran si ahli ibadah. Suatu hari karena sudah tak tahan lagi dengan rasa penasaran yang berkecamuk dalam pikirannya. Ahli ibadah itu memutuskan untuk memanjat ke atas pohon saat burung itu datang.

Burung itu datang dan si ahli ibadah pun memanjat. Alangkah terkejutnya si ahli ibadah ketika mengetahui ada seekor ular buta di atas pohon kurma tersebut. Si burung datang mendekati ular buta itu dan bersuara maka si ular pun membuka mulutnya. Kemudian burung itu pun meletakkan daging yang ia bawa ke dalam mulut ular tersebut.

Ternyata selama ini burung itulah yang memberi makan ular buta yang tidak bisa apa-apa ini. Timbul pertanyaan. Siapakah yang menyuruh burung itu memberi sepotong daging pada ular yang buta ini? Siapa lagi kalau bukan Dzat Yang Maha Memberi Rezeki, Allah, Tuhan seru sekalian alam.

Maka benarlah Firman Allah SWT berfirman: "Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam (habitat) binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata.” (QS. Hud: 6)

Bersamaan dengan redanya hujan, lelaki yang menumpang nonton TV lewat jendela ini pun merasa tercerahkan. Lalu ia berjalan pulang.


Keesokan harinya, lelaki yang sudah sangat yakin akan rezekinya tadi tidak berangkat ke kantor. Sendirian saja, ia duduk saja di depan meja makan di apartemennya dengan sendok di tangan kanannya dan garpu di tangan kirinya. Sementara itu piring besar berwana putih di depannya masih dengan jelas memantulkan cahaya dari jendela apartemennya.

Detik demi detik berlalu, dan lelaki itu tampak seperti patung tanpa sedikit pun melakukan gerakan yang berarti. Posisinya masih tetap sama, sendok di tangan kanan dan garpu di tangan kiri, dan piring di depannya pun masih tetap sama. Kosong sama sekali.

“Mungkin sebentar lagi,” pikirnya.

Sepertinya ia cukup yakin kalau Tuhan akan punya suatu cara untuk membuat sebuah makanan hadir di atas piringnya. Ia coba-coba memikirkan akan ada seekor burung yang terbang dan masuk lewat jendela membawakan sepotong steak lengkap dengan saos barbequenya untuk ia santap.

“Atau mungkin teman-teman SMA-ku akan berkunjung membawakanku oleh-oleh untuk disantap bersama,” khayal lelaki itu.
“Atau mungkin tiba-tiba ada sebuah pesawat peralatan kemah yang menjatuhkan beberapa roti keatas piringnya karena kelebihan muatan,” khayalnya lagi, “siapa tahu?”

Dan setelah itu, ia terus saja mengkhayalkan berbagai skenario lain bagaimana cara munculnya makanan di atas piring kosongnya. Setiap habis satu khayalan muncul khayalan baru yang kedengaran jauh lebih ajaib dari sebelumnya. Terus saja begitu hingga tiba-tiba ia merasa lapar.

Ia pun mengingatkan Tuhan, “Ya Tuhan aku sudah lapar.” Dia berkata begitu seolah-olah Tuhan lupa untuk memberinya makan. Ia kelaparan sekarang tapi tetap saja kamu tidak akan bisa melihat sebuah gerakan apapun darinya. Ia masih disitu, masih menunggu.

Waktu terus berputar, jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Rasa laparnya pun semakin menjadi-jadi. Sempat terpikir lelaki itu untuk menyerah saja dan menghambur keluar untuk mencari makan. Tapi ia berhasil menguatkan dirinya sendiri untuk tetap percaya pada Firman Tuhan dalam Surah Hud ayat 6.

Dan waktu masih terus saja berputar...


Kamu mungkin sudah tidak percaya dengan cerita ini, tapi aku serius, ini sudah enam hari sejak lelaki itu duduk di depan piring kosongnya dan menunggu keajaiban Tuhan datang. Sepertinya ia sudah nyaris mati. Kemarin, saat kadar gula dalam darahnya sudah sangat rendah sebenarnya ia sudah mau merampok untuk bisa mendapatkan makanan tapi anehnya ia masih juga bertahan disana sampai hari ini.

Sekarang kulitnya sudah agak biru dan matanya sayu sekali. Aku kira dia sudah mati, tapi hidungnya masih bergerak sedikit. Badannya sudah kering sekali, hanya sudut matanya saja yang agak lembab. Itu pasti sisa air matanya yang sudah mengering tiga hari yang lalu. Dia pasti sangat sangat sangat lapar.

Dan akhirnya dia mati.


Teman-temannya yang baru bisa datang satu minggu kemudian mengurus jenazahnya. Lelaki itu dikubur dan protes sama Tuhan dalam kematiannya.

“Katanya rezekiku udah dijamin? Kenapa Engkau biarkan aku Tuhan?” protesnya.
“Apa kau berharap aku mengirim utusan untuk memberimu rezeki?” Tuhan bertanya balik.
“Iya dong! Kayak cerita ular buta itu!”
“Udah kukirim, kamu aja yang gak peduliin dia.”
“Kapan?”
“Sejak hari pertama.”
“Siapa?”
“Aku mengirimimu rasa lapar, selera makan, kaki untuk berjalan, tangan untuk bekerja dan kekuatan untuk mengerjakan apapun yang diperlukan.”

“Oow”
Bagikan via:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Google+ Followers