Cerpen - Dialog Tukang Tanya

Rabu, 20 Januari 2016

shalat subuh keluar dari tubuh

Aku sedang duduk sendiri bersila di atas sajadah dalam kamarku. Waktu itu matahari belum terbit. Dzikirku sudah jauh membumbung tinggi, berkas-berkas cahaya terlihat jelas walau mataku terpejam. Terdengar suara-suara dzikir malaikat langit, aku rasa aku telah berada di alam yang sangat tenang dan syahdu.

Subuh ini aku datang lagi pada Zat tempat aku mengadu, menyembah dan meminta pertolongan. Dia Maha Mengetahui. Jadi aku mendekatkan diri pada-Nya dan terus bertanya. Pagi ini ada pertanyaan menarik yang ingin kutanyakan.


“Ya, Tuhanku, kemarin aku jadi satu-satunya yang tak lulus ujian semester filsafat ilmu. Apa itu memang yang terbaik?” tanyaku pada-Nya
“Ya, tentu saja itu yang terbaik untukmu.”
“Tapi itu membuatku sedih,”
“Tapi itu juga membuatmu belajar.”
“Bagaimana kalau aku berjanji akan rajin belajar dan Kau tak perlu membuatku tak lulus?”
“Tapi kau tak akan belajar kalau tak lulus.”
“Tapi kalau Kau buat aku tidak lulus, tidak hanya aku, orang tuaku juga akan sedih, aku tidak akan lulus tepat waktu.”
“Kalau begitu itu berarti memang harus.”
“Tapi kenapa?”
“Kau tak tahu, orang tuamu dulu pernah membuat seorang temannya terlambat lulus satu tahun juga.”
“Kenapa harus aku? Bukankah adikku juga bisa?”
“Mereka rajin belajar.”

Oh Tuhan, baru aku menyadari betapa pentingnya belajar itu. Aku mahasiswa, seharusnya mahasiswa belajar. Aku hanya satu bagian dari seluruh sistem yang ada, dan kebetulan aku ditempatkan jadi mahasiswa maka seharusnya aku melakukan tugasku dengan baik. Aku kembali ke tubuhku. Ada rasa sedikit gatal di kakiku. Itu membuatku sedikit buyar. Ternyata ada nyamuk disana. Itu mengingatkanku pada hal lain yang harus kutanya.
“Ya Tuhan, boleh kan aku bertanya lagi.”
“Tanya lah.”
“Kenapa kau ciptakan nyamuk?”
“Jutaan orang hidup karena bekerja di tempat pembasmi nyamuk.”
“Bukankah Engkau bisa saja memberi mereka pekerjaan lain. Bagaimana kalau ia tidak ada saja.”
“Aku bisa melakukan apa saja yang Aku kehendaki tapi itulah yang kuinginkan.”
“Hal besar apa yang akan terjadi jika nyamuk tidak ada.”
“Raja Namrud tidak akan mati pada waktunya. Dia akan terus memerintah selama beberapa tahun lagi.”
“Waww, apa pengaruhnya?”
“Kekuasaannya akan menyebar sampai daratan yang sekarang kau sebut Indonesia.”
“Lalu?”
“Salah satunya akan anak-anak Namrud kelak akan menggantikannya, dan anak buah mereka akan menjajah nenek moyang Soekarno.”
“Lalu?”
“Soekarno tidak akan lahir, dan tak ada lagi tokoh yang memerdekakan Indonesia.”
“Kenapa Indonesia harus merdeka.”
“Karena kelak Indonesia harus bertemu dengan Amerika dan menjalin kerjasama.”
“Kenapa harus?”

“Amerika butuh kalian sebagai tempat mengeruk keuntungan dan harta.”
“Untuk apa mereka gunakan harta itu?”
“Membuat senjata dan membantu Israel berperang melawan Palestina.”
“Kenapa harus ada orang Israel?”
“Tidak ada yang lebih menguji iman setelah setan dan nafsu kalian sendiri kecuali mereka.”
“Ohh, baiklah.. kurasa Pak Wardianto sudah berada di depan kelasku satu jam lagi. Aku harus kembali Tuhanku.”

Dalam sekejap akupun kembali ke tubuhku lagi. Membereskan buku, menyusun jadwal, mandi, dan langsung ke kampus.


* Cerpen ini dimuat di majalah Dinamika Edisi Oktober 2013
Bagikan via:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Google+ Followers