Bagaimana Sebaiknya Bersikap pada Pengemis

Sabtu, 23 Januari 2016

memberi sedekah pada pengemis tapi kya raya naik sepeda motor punya mobil mewah pula
Jadi ngiri ya

Sebelum masuk ke tulisannya saya mau tanya dulu. Kira-kira jika pengemis di atas lewat di depan kamu kemudian dia meminta sedekah padamu, apakah kamu akan memberinya? Kurasa tidak ya.

Sejak beberapa tahun lalu sering kali kita dengar di televisi banyaknya modus penipuan yang dilakukan oleh para pengemis dan anak jalanan. Aku yang saat itu masih anak-anak dan lagi seneng-senengnya berbuat baik dan menolong orang lain, jadi merasa kecewa dan tertipu berat. Bahwa ternyata selama ini perasaanku dipermainkan.

Sejak saat itu aku jadi lebih selektif terhadap pengemis-pengemis yang datang. Aku tak mau lagi tertipu jika semua ini hanyalah akting. Aku lebih ketat menyeleksi mana pengemis yang benar-benar pengemis dan mana yang pura-pura jadi pengemis. Dan itu kulakukan lama sekali.

Saking lamanya, sampai-sampai aku berubah, dari yang tadinya cukup rajin sedekah, sekarang aku jadi seperti Seorang Kritikus yang terlebih dahulu menilai kesempurnaan penampilan dan profile si pengemis baru lah aku mau memberi. Aku yang tadinya hampir selalu memberi sekarang berubah jadi hampir selalu tidak memberi. "Apa yang salah?" kupikir.


Permberitaan berita-berita di Televisi pun memojokkan posisi para pengemis gadungan ini. Banyaknya pemberitaan seperti itu sepertinya malah mendukung "gerakan tidak memberi" bagiku.  Pemberitaan itu memberiku alasan untuk tak bersedekah. Padahal kalau tak salah sedekah itu sunnah. 

Sayangnya waktu itu aku cukup buta untuk memandang permasalahannya secara jelas. Seorang temanku waktu itu pernah menceritakan bahwa ia cukup kaget, seorang pengemis yang biasa ia temui di Ramayana Aksara ternyata punya sebuah sepeda motor yang diparkirkan di dekatnya. Aku dan semua temanku waktu itu terprovokasi mendengarnya. "Bagaimana bisa dia mengemis pada kita sementara dia sudah punya kereta dan kita belum? What is the difference between us?" Dan pertanyaan itu sudah terjawab sekarang.

Tapi diam-diam begitu, di rumah aku mulai berpikir dimana batasan yang jelas antara pengemis dengan pengemis gadungan?

Dan jawabannya adalah tidak ada. Selama mereka sama-sama mengemis, maka tidak ada yang namanya pengemis gadungan atau pengemis betulan. Semuanya itu adalah pengemis. Dan satu hal yang membedakan kita dengan dia, keputusannya untuk menjadi pengemis. Sesungguhnya yang kita jual ketika memutuskan untuk ikut mengemis adalah harga diri dan nama baik. Mereka yang menjual keduanya pasti merupakan orang yang tak punya apa-apa lagi selain itu. Jadi apa sekarang kau masih mau menjadi seperti mereka untuk sebuah motor baru? Harganya? Harga dirimu aja cukup kok.

Gak mau kan? Ya begitulah. Bagaimana pun kita masih punya harga diri untuk tidak mengemis. Lagi pula ini baru cocok dengan hadits yang belakangan kutemukan (walaupun dinyatakan lemah oleh Syaikh al-Alb├óni 
"Setiap peminta-minta punya hak (untuk diberi) walaupun ia datang dengan mengendarai kuda,” 
Sangat jelas kan? Itu artinya Allah menjamin hak-hak orang yang telah memutuskan untuk menjadi pengemis. Kalau tidak ada mereka, kemana lagi kita mau bersedekah? Sekarang terjawab sudah dengan kasus si pengemis yang punya kendaraan bermotor tadi. Jadi kuharap jangan ada lagi yang protes kalau seorang pengemis punya sejenis mobil mewah atau jet pribadi. Ada lagi ayat.
“Dan terhadap orang yang meminta-minta makan janganlah kamu menghardiknya". (Q.S. ad-Dhuha: 10)

Sesungguhnya untuk perkara apakah mereka itu asli atau palsu bukan urusan kita untuk menentukannya. Kita cukup berbaik sangka dan sungguh kita akan diberi pahala karena itu. Sedangkan hukuman bagi mereka yang mempermainkan perasaan kita adalah dari Allah. Ada hadits:
“Wahai Qabishah! Sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal, kecuali bagi salah satu dari tiga orang: Seseorang yang menanggung beban (hutang orang lain, diyat/denda), ia boleh meminta-minta sampai ia bisa melunasinya, kemudian berhenti. Dan seseorang yang ditimpa musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup. Dan seseorang yang ditimpa kesengsaraan hidup sehingga ada tiga orang yang berakal dari kaumnya mengatakan, ‘Si fulan telah ditimpa kesengsaraan hidup,’ ia boleh meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup. Wahai Qabishah! Meminta-minta selain untuk ketiga hal itu adalah haram, dan orang yang memakannya adalah memakan yang haram”. (Al-Hadits)

Seseorang senantiasa meminta-minta kepada orang lain sehingga ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan tidak ada sepotong daging pun di wajahnya. (Al-Hadits)

Barangsiapa meminta-minta kepada manusia harta mereka untuk memperbanyak hartanya, maka sesungguhnya dia hanyalah sedang meminta bara api (neraka), maka (jika dia mau) silahkan dia mempersedikit atau memperbanyak.

Lengkap sekali hukum dalam Islam kan? Si bandel tetap dapat hukum, yang baik juga tetap harus ikhlas sedekah. Kalau mau cek betapa sempurnanya hukum Islam mari kita coba bandingkan dengan hukum buatan manusia.
“Fakir miskin dan anak – anak terlantar dipelihara negara”. UUD 1945 pasal 34
Wow? Siapa yang gak mau dipelihara negara macem PNS ya kan bro! Harusnya yang dipelihara itu bukan pengemis. Yang lebih perlu itu adalah orang yang kesulitan mencari uang seperti janda-janda dan yatim. Seperti yang Nabi buat waktu para syuhada meninggal syahid dalam perang. Lihatlah zaman sekarang ini, akibatnya lebih parah. Jadi banyak tante-tante yang tak tahu mencari uang pada akhirnya harus ikut menyumbangkan kerusakan moral bangsa.
Tapi anehnya kemudian kita temukan aturan-aturan seperti ini:
(1) Barangsiapa mengemis di muka umum, diancam karena melakukan pengemisan dengan pidana kurungan paling lama enam minggu.
(2) Pengemisan yang dilakukan bersama-sama oleh tiga orang atau lebih, yang masing-masing berumur di atas enam belas tahun, diancam dengan pidana kurungan paling lama tiga bulan. KUHP 45 Pasal 504
Aku jadi tidak mengerti dibuatnya. Kemana kita harus bersedekah mas bro? Masak harus ke kantor BAZIS gitu? Dan ada yang lebih parah lagi


Sekali lagi mari kita lihat apa yang hukum Islam katakan?
“Demi jiwaku yang berada di tanganNya sungguh seseorang yang mengambil tali di antara kalian kemudian dia gunakan untuk mengangkat kayu di atas punggungnya lebih baik baginya daripada ia mendatangi orang kemudian ia meminta-minta kepadanya yang terkadang ia diberi dan terkadang ia tidak diberi olehnya”. (HR. Al-Bukhari)

Kurasa sudah jelas ya. Kuharap tidak ada lagi yang bertanya apa hukum memberi sedekah pada pengemis gadungan (bohongan). Fenomena pengemis yang menipu ini memang tak pernah habis kalau mau dibahas, kapan sedekahnya kalau terus membahas itu. Tidak ada lagi yang harus diragukan untuk bersedekah. Kalau mau sedekah gak usah banyak alasan deh. Kasi ya kasi, kalau belum sanggup sedekah ya gak usah banyak cakap, malu kita dengernya.
Dan sekali lagi tepuk tangan buat hukum Islam.


DIUPDATE 16 Februari 2014
Aku ketemu hadits ini
Dari Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah saw bersabda, “Bukanlah orang miskin itu yang berkeliling meminta-minta kepada orang banyak sehingga tertolak dari satu dua suap makanan atau satu dua biji kurma, tetapi orang miskin yang sesungguhnya dan yang dikehendaki oleh Islam untuk dibantu ialah orang yang tidak mempunyai penghasilan yang mencukupi dan yang tidak diingat orang untuk disedekahi serta tidak suka pergi meminta-minta kepada orang lain.”
(Bukhari – Muslim)
Bagikan via:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Google+ Followers