7 - Senjata Makan Tuan

Jumat, 14 Juni 2013

Rabu, 7 September 2016

Matahari Rabu itu belum naik segalah tapi halaman auditorium kampus sudah terlihat ramai sekali. Caca tidak menyangka jumlah pengunjung Book Fair akan seramai itu.

Puluhan stand buku tersusun rapi membentuk lingkaran konsentris. Sebuah panggung tampak sudah siap di dekatnya untuk acara yang mungkin baru akan dimulai nanti siang. Caca masih tidak percaya kalau ia menerima ajakan Bila dan pergi kesana bersama perempuan berjilbab besar itu.


Caca tidak hanya cantik tapi juga cerdik. Perempuan lain mungkin punya satu set alat rias dengan harga jutaan tapi Caca mengetahui beberapa teknik rahasia untuk tampil lebih cantik dan lebih menarik. Teknik-teknik itulah yang membedakan ia dengan semua perempuan lain yang hampir sama cantiknya.

“Stand yang itu kayaknya rame Ca. Kesana yuk!” ajak Bila.

Bila tidak menunggu jawaban Caca. Ia langsung melesat dengan semangat menyusuri setiap stand yang ada. Ia singgah di satu stand dan membongkar hampir setiap tumpukan buku yang diobral di sana.

Caca yang mengikuti dari belakang agak lucu melihatnya. Itu membuatnya teringat pada Febi yang juga tak kalah lihai membongkar dan mencari yang terbaik dari tumpukan baju yang diobral. Ia membiarkan Bila asyik dengan perburuannya dan mulai mencari buruannya sendiri. Si coklat itu pasti juga ada disini.

Caca sibuk mencari tapi ia belum melihat batang hidung Farhan sejak mereka terakhir kali bertemu di perpustakaan. Caca tahu dibutuhkan beberapa pertemuan yang terlihat seperti kebetulan untuk menimbulkan benih-benih rasa dalam hati seseorang. Itu sebabnya ia berharap banyak pada Book Fair ini.


***


Sudah lebih dari satu setengah jam mereka berkeliling. Semangat Bila hampir tidak ada bedanya dengan saat pertama kali ini tiba. Ia beda jauh dengan Caca yang sudah kegerahan. Caca yang sudah lelah berkeliling kembali pada Bila tanpa hasil apapun.

“Kak, kayaknya aku harus ke kamar kecil dulu deh.” ujarnya dengan wajah berpeluh keringat.

“Oh, kamu kecapean ya dek? Perlu kakak temenin gak?” Bila menghentikan sebentar aktivitasnya untuk Caca.

“Gak usah kak, Caca sendiri aja. Kakak jangan jauh-jauh dari sini ya.”

“Yaudah,” Bila pun kembali pada penburuannya.

Letak kamar kecil agak jauh dari pusat keramaian. Caca berdesakkan melawan arus pengunjung untuk keluar dari sana. Pada saat berdesakan itu, seseorang yang terlihat seperti Farhan berjalan ke arahnya di kejauhan. Apa itu benar dia?

Caca berlari lebih cepat melewati orang yang berkerumun dan tiba-tiba keduanya sudah berdiri berhadapan. Jarak mereka tak sampai dua puluh sentimeter karena ramainya pengunjung yang berlalu. Caca mengangkat kepala untuk melihat wajah laki-laki yang berdiri di depannya.

Sesaat Caca terdiam tak mengenali laki-laki yang saat itu berdiri di depannya. Tingginya sama tinggi dengan Farhan, Alisnya juga tebal seperti Farhan, tapi kulitnya tidak coklat seperti Farhan.

Caca masih tak mengenali laki-laki yang berdiri di depannya hingga ia bertanya, “Nissa kan?”

Caca terkejut bukan main. Jantungnya berdetak sangat cepat. Lidahnya tiba-tiba menjadi kelu hampir tidak bisa menjawab, “I, Iya.”

Sekilas Caca teringat pada masa sekolahnya, masa dimana teman-teman masih memanggilnya Nissa. Banyak nama muncul dalam pikiran Caca tapi ia belum bisa tentukan mana nama laki-laki yang baru saja menegurnya.

“Aku cari buku lagi ya,” kata si laki-laki tepat saat sebuah nama muncul dalam pikiran Caca.

“I, iya Rafi,” jawab Caca penuh kesan.

Itulah pertama kalinya setelah sekian lama, Caca bertemu lagi dengan satu-satunya laki-laki yang membuatnya begitu penasaran. Tak heran kalau ia mematung di sana untuk beberapa saat.


***


“Yang tadi itu betul-betul Rafi kan?” tanya Caca pada bayangannya sendiri di balik cermin besar toilet itu.

Rafi adalah teman sekelas Caca waktu SMP. Mereka tidak pacaran. Dibilang hanya teman pun rasanya sulit karena mereka hampir tak pernah bicara. Mereka hanya teman sekelas.

Rafi adalah anak yang sangat pendiam. Ia selalu terlihat bersama temannya yang laki-laki tapi hampir tidak pernah bicara. Rafi adalah jenis anak yang tak akan diingat teman-temannya jika mereka tidak memegang absen. Sikap diam itulah yang pernah membuat Caca penasaran.

Caca tidak menyukainya apalagi berharap agar ia jadi pacarnya. Rasanya tidak mungkin, perempuan yang sudah menerima begitu banyak perhatian seperti Caca butuh seorang laki-laki tertentu untuk memberinya perhatian khusus. Ia hanya penasaran saja.

“Aku hanya kaget karena tiba-tiba dia bicara padaku. Itu saja,” gumamnya.

“Benarkah?” tanya bayangannya ragu.

“Tentu saja benar! Sudahlah, aku harus mencari Bang Farhan.”

Caca keluar dari toilet dengan wajah yang lebih segar dan kembali menuju keramaian. Ia baru menyadari kalau siang sudah agak terik. Suasana di sekitar stand tidak lagi penuh sesak seperti saat ia tinggalkan. Caca pun kembali mencari Farhan.

Caca hanya ingin muncul dalam pengelihatan laki-laki itu sekali saja. Ia sudah berkeliling dua kali tapi hasilnya tetap sama. Tidak ada! “Bagaimana mungkin laki-laki itu bisa suka jika bertemu denganku saja ia tidak pernah,” pikirnya.

Tak begitu jauh dari tempat Caca berdiri seseorang memanggilnya, “Hei.. Caca!”

Caca menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Ternyata itu Bila. “Eh, iya kak,” jawab Caca sedikit kecewa.

Bila sedang berdiri sambil membaca sebuah buku yang tidak disampul di salah satu stand. Terlihat dua buah goody bag terisi penuh dengan buku di sebelahnya. Kelihatannya ia sulit menahan diri saat bertemu dengan buku.

“Kamu kecapean kan? Mau pulang sekarang?” tanya Bila.

Caca baru akan menjawab iya, saat ia melihat ke dalam bazar dan berseru, “Akhirnya!”

“Hah? Kamu udah gak kuat ya Ca? Ayo deh, kita pulang.”

“Bukan kak,” kata Caca yang tiba-tiba mendapatkan kembali semangatnya. “Bukan kok.”

Bila masih diam menunggu Caca melanjutkan. Caca yang harus mencari sebuah alasan menyambar sebuah buku di dekatnya dan berdalih. “Akhirnya buku ini ketemu juga kak. Caca udah capek keliling-keliling nyari buku ini.”

Caca tahu alasan itu tampak terlalu dibuat-buat tapi ia tak bisa memikirkan yang lebih baik lagi. Ia senang sekali ketika akhirnya menemukan sang buruan di dalam stand itu. Harusnya aku sudah menduga. Ternyata Farhan tidak datang sebagai pengunjung, ia datang sebagai penjaga salah satu stand.

Farhan belum tahu kalau Caca ada di standnya. Ia masih sibuk mendata dan membukukan penjualannya hari ini.

“Bo & Jo,” Bila mengeja judul buku yang Caca ambil, “Kamu suka komik juga ya Ca? Itu bagus lho isinya.”

Caca yang juga baru tahu kalau buku itu sebuah komik hanya bisa mengikuti Bila, “Iya kak. Kata temenku ceritanya bagus.”

“Coba minta bukain sama abang yang jaga deh!” ujar Bila, “ada bagian bagus yang mau kakak tunjukin sama kamu.”

Caca yang memang sedang ingin mengganggu Farhan langsung menyambut ide itu dengan masuk ke dalam stand. Farhan masih mendata uang masuknya waktu Caca datang mendekati dan mengganggunya lagi. “Bang, bisa bukain sampul buku yang ini nggak?” tanya Caca sambil membiarkan rambutnya yang tergerai jatuh di depan Farhan.

Farhan menoleh dan langsung menyadari kalau yang ada di depannya ini adalah perempuan yang mengambil bukunya beberapa hari yang lalu. “Oh, kamu lagi.”

Caca memberi dirinya satu poin waktu Farhan bilang begitu. “Eh abang lagi ternyata,” serunya pura-pura baru sadar.

“Nggak boleh Dek,” jawabnya pendek sambil terus menghitung uang.

“Tapi di stand lain boleh kok,” bujuk Caca.

“Kalau begitu kamu ke stand lain aja.”

“Di stand lain gak ada buku ini,” kata Caca lagi sambil menunjuk sampul buku itu.

“Bo & Jo ya?” Farhan membaca judul di sampul komik itu kemudian pura-pura berpikir sebentar. “Gak boleh!” ujarnya cepat.

Bila masuk ke dalam dan menemukan Caca masih berdebat dengan si penjaga stand, “Kenapa Ca?” tanya Bila penasaran.

Caca senang sekali ketika Bila memutuskan untuk masuk. Menurut hukum perbandingan, seseorang akan terlihat jauh lebih cantik jika di dekatnya ada orang lain yang tidak begitu cantik. Caca yang sengaja menjadikan Bila sebagai pembanding tidak tahu kalau keduanya sudah saling kenal.

“Eh, ukhti Sabila datang juga ya. Ana baru sadar,” sapa Farhan.

Bila membenarnya posisi kacamatanya untuk melihat si penjaga stand lebih jelas. “Oh, akhi buka stand sendiri?” tanya Bila mendapati ketua organisasinya berada di stand itu.

Caca tidak menyangka apa yang ia lihat. Ya ampun. Mereka saling kenal!

“Besok acaranya mulai jam berapa Ukh?” tanya Farhan tentang suatu acara yang Caca tidak tahu.

“Jam delapan Akh. Di Masjid kampus,” jawab Bila yang merupakan salah satu panitia dari acara yang dimaksud.

“Jadi ini adik kamu Ukh?” tanya Farhan seolah memergokinya.

Bila tidak tahu apakah ia harus mengangguk atau meng-geleng, “kenapa Akh?”

“Ana harap dia belajar banyak dari kakaknya,” jawab Farhan sambil melirik Caca sinis.

Caca yang mendapati dirinya dibandingkan dengan Bila tidak lagi bisa berkata-kata. Ia memang berharap Farhan akan membandingkannya dengan Bila tapi bukan seperti ini. Caca menyesal tidak hati-hati memilih orang yang dijadikannya teman berburu.

Caca tidak memperhatikan lagi ketika Bila membujuk Farhan membukakan sampul komik itu untuknya. Ia terlalu sibuk dengan rasa malu dan rendah diri karena dibanding-bandingkan dengan Bila yang lebih sopan berpenampilan dan lebih halus dalam bersikap.

Seperti yang semua orang bisa lihat, sisa hari itu Caca lalui dengan raut wajah yang kusut sekali.

Lanjut lagi? Boleh tapi sebelumnya klik Share Cerita Caca dulu ya! Setelah itu baru klik Bagian 8 - Jeda Singkat
Bagikan via:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Google+ Followers