5 - Dalam Pencarian

Kamis, 13 Juni 2013

Di bawah bulan purnama pada malam yang sama, beberapa anak bersarung dan berlobe terlihat kejar-kejaran di halaman rumah tempat Farhan tinggal. Padahal mereka sudah mengantuk sekali waktu mengaji tadi tapi begitu selesai shalat Isya berjamaah tiba-tiba mata mereka terang kembali.


Dalam ruangan yang mereka gunakan untuk mengaji dan shalat berjamaah tadi terlihat juga dua anak yang lebih suka bermain di bawah cahaya lampu dan nyala kipas. Farhan yang tidak pernah berhasil memperingatkan agar anak-anak itu tidak berlari-lari di atas sajadah hanya bisa pasrah melihat kelakuan murid-muridnya.

Di dekat kipas angin, ia duduk bersandar sambil meluruskan kakinya yang sudah kelelahan berjalan seharian. Sisa air wudhu shalat Isya yang masih membasahi wajahnya terasa sangat menyegarkan saat kipas angin bertiup ke arahnya.

Di saat seperti itu, Farhan selalu membayangkan suatu saat ia akan memiliki sekolah atau pesantrennya sendiri. Tidak seperti sekolah lain, sekolah yang akan ia dirikan akan menjamin siswa lulusannya akan punya akhlak yang baik dan cukup mandiri untuk setidaknya menghidupi diri mereka sendiri.

Sekolah itu akan lebih mengutamakan keterampilan praktis seperti menjahit, mendesain, memasak, mencetak, melakukan produksi, dan jual beli daripada ilmu teori murni untuk bisa menjamin semua yang mereka pelajari akan berguna bagi kehidupan kelak. Sekolah itu baru akan membelajarkan siswanya tentang matematika jika anak itu memang terlihat berbakat di sana. Menurut Farhan banyaknya waktu yang disia-siakan anak untuk mempelajari apa yang bukan bakat mereka adalah satu dari sekian banyak faktor penyebab rendahnya kualitas sumber daya manusia di negeri ini.

Farhan juga membayangkan suatu saat ia juga akan mengajarkan sendiri kemampuan bertahan hidup seperti olahraga bela diri, panahan, berenang dan wilderness adventure sebagai kegiatan ekstrakurikuler agar siswanya dapat melatih fokus, keberanian dan penguasaan diri yang baik sebagai bekal untuk terjun ke masyarakat.

Farhan masih dalam khayalannya waktu neneknya mengingatkan. “Nanti kalau sudah selesai jangan lupa tutup pagar dan matikan lampu ya Ustad.”

“Apaan sih nenek pakai manggil Ustad segala,” kata Farhan sambil bangkit melipat sajadahnya. Neneknya hanya tersenyum sebelum menghilang ke dalam kamarnya.

Di rumah itu Farhan tinggal hanya berdua dengan neneknya. Selain diutus ke Medan untuk menuntut ilmu, Farhan juga punya misi khusus untuk menjaga neneknya yang sudah setahun ditinggal oleh sang kakek.

Setelah semua muridnya pulang, Farhan membereskan ruangan itu, mengunci pintu rumah, kembali ke kamarnya, mengaji sedikit kemudian mencoba tidur. Tapi ia tidak bisa tidur. Ia masih kesal karena kehilangan satu-satunya buku berjudul Kado Pernikahan di perpustakaan siang tadi. Ia tidak habis pikir mengapa gadis manis itu ingin meminjam buku sejenis Kado Pernikahan.

Ia sendiri sebenarnya juga tidak terlalu suka membaca buku sejenis itu. Ia terpaksa.

Farhan yang tidak pernah merasa cukup belajar ilmu agama di SMA dulu berharap bisa memperdalam ilmunya dengan masuk ke kampusnya calon ustadz dan ustadzah. Sedikit pun tak ada niat dalam hatinya untuk mencari gelar atau ijazah. Niatnya murni hanya ingin belajar ilmu agama. Ia tidak tahu kalau harapannya pada kampus itu terlalu tinggi.

Kenyataan bahwa kampus yang ia masuki tidak jauh berbeda dengan kebanyakan kampus lainnya membuat Farhan sangat kecewa. Butuh setidaknya dua semester baginya untuk berdamai dengan kenyataan itu dan menemukan hikmah di balik semuanya.

Walaupun lingkungan belajarnya tidak seperti yang diharapkan, di kampus itulah Tuhan berkehendak mempertemukan Farhan dengan guru yang telah ditakdirkan untuknya. Tidaklah usah diceritakan betapa senangnya Farhan saat bertemu dengan guru ilmu kesejatian hidup yang seolah tahu segalanya itu. Yang jelas sejak saat itu Farhan menemukan alasan untuk tetap bertahan di Medan dan kuliah di kampusnya itu.

Kemarin, tepat tiga tahun setelah Farhan mulai belajar, gurunya berkata, “Farhan, hari ini kamu telah tiba di batas akhir pelajaranmu. Kamu tidak bisa belajar lebih banyak lagi kecuali kamu sudah menikah. Cari seorang perempuan yang baik, lamar, nikahi, lalu kembalilah. Pada saat itu guru akan wariskan seluruh ilmu yang belum pernah guru ajarkan padamu.”

Kata-kata itulah yang terus bergema dalam pikiran Farhan sejak di perpustakaan siang tadi. Kata-kata itu pula yang me-maksanya untuk mencari buku yang tidak ia sukai itu lagi besok.

Masih belum bisa menyingkirkan bayang-bayang gadis manis pencuri bukunya itu, Farhan bertanya-tanya, “Apa dia juga mau menikah?”

Lanjut ke Bagian 6 - Sang Kakak
Bagikan via:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar