3 - Muslihat Cantik

Kamis, 13 Juni 2013

Laki-laki itu ingin menahan Caca tapi ia sadar tak boleh memegang tangan perempuan itu. “Tunggu!”


Caca yang sudah berdiri berbalik menunggu Farhan bicara. Laki-laki itu ingin memarahi perempuan manis di depannya ini habis-habisan tapi ia sadar berada perpustakaan, “Abang udah susah payah cari buku itu tadi. Kamu cari buku lain aja kenapa sih!” nada kemarahannya masih terasa walau ia setengah berbisik.

Laki-laki itu menarik paksa buku yang memang ia temukan duluan dari tangan Caca. Caca yang tidak bisa menemukan cara lain yang lebih ampuh mulai menangis. “Hiks hiks...”

“Ehh.. kok malah nangis sih,” katanya kesal.

Melihat keributan mereka tak kunjung selesai, dua orang petugas perpustakaan datang mendekati. “Oh ternyata kamu Han!” kata salah seorang petugas. “Kamu apain adik ini?”

“Nggak tahu pak. Aku cuma minta bukuku, eh dia malah nangis.”

“Iya tapi jangan sampai ribut begini dong, ini kan perpustakaan.” kata petugas yang lebih muda, “Kamu gak apa-apa nak?” tanyanya pada Caca yang masih asyik dengan aktingnya.

“Ga, gak apa-apa kok pak,” jawab Caca dan mengangkat wajahnya.

“Oh dik Caca rupanya,” petugas yang lebih tua ternyata mengenalinya.

Petugas muda bertanya pada yang tua, “Ini Caca yang bapak ceritakan itu?”

Petugas tua mengangguk dan petugas muda itu kembali pada si laki-laki dan protes, “Harusnya kamu gak boleh kasar sama perempuan Han. Kamu kan ketua LDK. Harusnya kamu yang paling tahu dalil tentang itu.”

“Siapa yang kasar sama dia?” tanyanya balik membela diri.

Petugas muda itu tidak mempedulikan si laki-laki dan dengan lembut bertanya pada Caca. “Dik Caca mau pinjam buku yang mana?”

Pura-pura tak berdaya dengan lemah Caca berkata, “yang itu.” Sambil menunjuk sebuah buku yang sedang dipegang si laki-laki.

“Enak aja! Ini abang duluan yang pinjam.”

“Sudahlah Farhan, sesekali mengalah kenapa sih!” kata petugas muda itu sambil merebut bukunya sedangkan laki-laki bernama Farhan itu tidak bisa berbuat apa-apa.

Petugas muda itu membaca judul bukunya. “Lagian buat apa sih kamu baca buku beginian. Sekarang ini kamu kerjain aja dulu skripsi kamu Han. Kapan kamu mau wisuda?”

“Astagfirullah.” Farhan tak menemukan kata lain yang lebih tepat untuk diucapkan.

Farhan hanya bisa bersabar waktu melihat bukunya dibawa pergi oleh seorang gadis cantik dan dua petugas yang bersimpati padanya. Dalam hati ia mencoba untuk berpikir positif, “Mungkin perempuan itu memang membutuhkan buku yang sama karena suatu alasan.”

Ia masih dalam pikiran positifnya ketika perempuan itu bermain mata dan menghilang di balik pintu. Tapi itu segera membuatnya sadar, Aku sudah dikerjai!

Lanjut ke Bagian 4 - Tunggu Saja
Bagikan via:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Google+ Followers