Man Jadda Wa Jada, Nilai sebuah Kesungguhan

Minggu, 13 Oktober 2013

novel negeri lima menara - man jadda wa jadda - sebuah novel sarat nilai dan makna
Judul : Negeri 5 Menara
Penulis : Ahmad Fuadi
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tahun Terbit : 2009
Dimensi : 135x200 mm
Tebal : xiii + 423 halaman
Harga : Rp 50.000,00


Siapa yang tak kenal Negeri 5 Menara? Setelah sukses besar laku di pasaran, Negeri 5 Menara yang merupakan buku pertama dari triloginya diangkat ke layar lebar. Novel yang terinspirasi dari kisah nyata penulisnya ini sukses membuat keduanya memenangkan berbagai penghargaan. Sekarang muncul pula versi bahasa inggrisnya. Apa yang sebenarnya ditawarkan novel ini?

Untuk itu setidaknya kita harus tahu bahwa kisah ini berawal dari Alif, anak pintar dari sebuah desa di dekat Danau Maninjau yang baru tamat madrasah tsanawiyah. Merasa sudah cukup belajar agama, Alif ingin masuk SMA untuk menikmati masa remaja seperti teman-temannya dan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi favoritnya ITB. Tapi orang tuanya memaksanya masuk pesantren. Seperti remaja lainnya, Alif tidak terima pada awalnya tapi bagaimanapun orang tua tetap harus dipatuhi. Setengah hati Alif menurut dan memilih merantau ke pesantren Pondok Madani (PM) untuk menghindari pertanyaan teman-temannya.


Di PM inilah cerita mengalir. Hari-hari pertama terasa begitu memberatkan bagi Alif. Karena terlambat ke masjid dalam kesempatan pertamanya Alif dihukum bersama beberapa teman senasib yang kemudian menjadi sahabat-sahabat terbaiknya, sahibul menara. Dilanjutkan dengan kesan pertama yang impresif dari tokoh Ustad Salman yang meneriakkan Man Jadda Wa Jada sehingga masuk dan membekas dalam hati sahibul menara. Spirit inilah yang kemudian melandasi setiap petualangan dan perjuangan sahibul menara hingga akhir cerita.

Alif yang tadinya ogah-ogahan masuk pesantren mulai mengerti bahwa keinginan amak di kampung sudah sepatutnya ia turuti. Ia pun berkirim surat dan meminta maaf pada amaknya untuk kekerasan hatinya dulu. Walaupun kadang ada masa-masa dimana Alif iri kepada Randai, teman yang juga saingannya yang berhasil masuk SMA sesuai keinginannya, Alif tahu apa yang ia dapat di PM juga dapat dibanggakan.

Penulis juga menceritakan lika-liku hidup di pesantren, serunya menjadi jasus (mata-mata bahasa), serunya petualangan horror tengah malam, hebohnya seisi asrama karena kehadiran seorang putri di PM, dan bagaimana menonton pertandingan bulu tangkis di televisi bisa menjadi sebuah perjuangan keras, semua disajikan secara dinamis dan mengalir oleh Bang Fuadi.

Berani Beda 
Novel ini punya beberapa hal yang membedakannya dengan novel remaja dewasa ini yang mengunggulkannya atas karya sejenis lainnya.

Setelah dibosankan dengan cerita cinta melulu, pembaca tentu akan menyukai tema merantau yang ditawarkan N5M. Diantara banyak amanat yang terkandung dalam cerita N5M, merantau adalah salah satunya. Merantau sebagai salah satu budaya minang terbukti mampu membentuk pribadi yang lebih tangguh daripada yang tinggal di kampung sendiri. Kalau dipikir-pikir lagi, Nabi saja merantau (baca: hijrah) haha.

Gaya penulisan Bang Fuadi yang unik juga menjadi nikmat membaca tersendiri. N5M memuat beberapa bahasa asing dan daerah, diantaranya: Medan, Maninjau, Sunda, Inggris dan Arab. Pembaca juga tak perlu khawatir tidak mengerti artinya karena kata-kata asing ini diikuti terjemahan atau penjelasan di catatan kaki. Gaya menulis ini dipandang menyenangkan karena pembaca tak harus kehilangan kata sebenarnya yang merupakan esensi dari nilai sebuah sastra dan tak pula harus kesulitan mengerti isi cerita karena kendala bahasa.

Nuansa pesantren yang sarat nilai-nilai keislaman dan moral sangat kental terasa. Ia juga menghapus pandangan kaku masyarakat tentang kehidupan pesantren yang asing dari dulu luar, bahwa ternyata pesantren juga tidak jauh berbeda dengan kehidupan biasa (bahkan lebih mengasyikkan di beberapa sisi).

Sarat Nilai Moral dan Keteladanan
Man Jadda Wa Jada. Kiranya kalimat ajaib inilah yang melandasi seluruh nafas di buku ini. Sebuah pesan dari Nabi yang disampaikan penulis yang telah mengalaminya secara langsung bahwa benarlah “Barang siapa bersungguh-sungguh pastilah ia akan mendapat.” Secara inspiratif kalimat ini pula lah yang akan muncul di pikiran saat anda membaca kalimat terakhir di novel ini.

Novel ini menawarkan keteladan seorang Alif, yang menyesal dan meminta maaf karena terlalu keras dulu dan ikhlas bersungguh-sungguh belajar di pesantren karena orang tuanya, Alif yang mengidolakan Habibie bukannya artis yang menyanyi, dan Alif yang sungguh-sungguh dan serius belajar untuk membanggakan orang tua. Sebuah gambaran jarang kita temukan di cerita kehidupan remaja sekarang. Novel ini sarat akan nilai-nilai pendidikan moral dan budi yang luhur apalagi jika dibandingkan dengan apa yang ada di televisi sekarang yang hanya bisa menyuguhkan adegan marah-marah, bentak membentak dan mata melotot yang sama sekali tidak mendidik.

Berusaha Mendekati Pengalaman Aslinya
Tapi sehebat apapun sebuah karya manusia pastilah ia mempunyai kekurangan. Setidaknya ada beberapa kekurangan yang bisa saya paparkan disini. Pertama, kurangnya dinamika konflik adalah salah satunya. Konflik yang diharapkan bisa memberi ending yang kuat tidak ditemukan dalam novel ini. Pembaca akan merasa mengambang saat membaca bagian akhir cerita karena merasa belum lengkap. Mungkin ini disebabkan oleh keinginan penulis membuat cerita sedekat mungkin dengan pengalaman aslinya. Harusnya ditambah konflik yang bisa mendramatisir akhir cerita.

Kedua, penulis tidak menceritakan bagaimana proses masing-masing sahibul menara menemui kesuksesannya, membuana di kancah dunia internasional. Hanya diceritakan bagaimana mereka bersungguh-sungguh belajar dan tiba-tiba mereka sukses. Tapi mungkin karena itulah penulis mengangkat Man Jadda Wa Jada menjadi tagline novel. Man Jadda, Siapa yang bersungguh-sungguh, ikhlas, dan mempunyai mimpi yang besar, Wa Jada, Pasti akan mendapatkan apa yang ia usahakan.


Akhir kata, Negeri 5 Menara tetap merupakan sebuah karya yang pantas dinikmati semua golongan yang butuh hiburan yang mendidik dan berbudaya.

resensi oleh Habib Asyrafy
Bagikan via:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Google+ Followers